Penelitian Cushman & Wakefield Indonesia Penjualan Perumahan di Serpong Merosot 15%


JAKARTA-Penjualan sektor perumahan di Serpong, Tangerang Selatan ternyata mengalami penurunan. Hal ini sebagai dampak dari aturan loan to value ratio (LTV).
Berdasarkan data penelitian Cushman & Wakefield Indonesia menyebutkan penjualan sektor perumahaan di kawasan Serpong mengalami kemerosotan transaksi sekitar 15%. "Sementara sekitar  Tangerang mengalami perlambatan," kata Senior Analyst Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia, Runita Kesumaramshani, Selasa, (22/04/2014).

Menurut Runita, beberapa rumah yang paling laku ditransaksikan adalah seharga Rp 1 miliar untuk ukuran 70/100. Patokan harga tersebut bergeser dari tahun sebelumnya di mana rumah senilai Rp 800 juta masih menjadi primadona. "Perubahan harga ini terkait dengan semakin tingginya harga lahan di daerah-daerah pengembangan tersebut," ujarnya sambil memberi contoh harga lahan di kawasan Serpong, tepatnya Alam Sutera, Summarecon Serpong, dan BSD City  berada pada level Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi.

Berdasarkan penelitiannya. indikasi penurunan  volume transaksi yang anjlok sebesar 10%-20%atau rata-rata  15%  selama semester kedua 2013 lalu. Volume transaksi dari 30 perumahan dengan luas area di atas 30 hektar yang tercatat dalam basket penelitian Cushman & Wakefield Indonesia mencapai Rp 6,545 triliun. Sementara itu, pada semester pertama 2013 bertengger di angka Rp 7,7 triliun.

Diakui Runita,  LTV yang mengharuskan konsumen membayar uang muka 30 persen menjadi penyebab utama terjadinya penurunan transaksi perumahan di Jadebotabek. Selain kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), juga KPR Inden. "Dampak LTV terjadi tidak hanya kepada konsumen secara langsung, melainkan juga pengembang. Dengan kebijakan tersebut pengembang harus membangun dulu untuk kemudian mendapatkan dana cicilan KPR konsumen," tambahnya.

Penurunan paling tajam terjadi di area Bekasi, yakni sebesar 20 persen. Biasanya, lanjut Runita, produk perumahan (klaster) baru diluncurkan langsung habis terserap pasar dalam hitungan hari. Namun, hal tersebut tidak lagi terjadi. "Hingga kemudian pengembang mengubah orientasi ekspansi bisnisnya ke properti komersial seperti hotel, pusat belanja, dan apartemen," pungkasnya.  (ek)


Comments

There are no comments

Comments are disabled after three months

Berita Terkait