Raih 43 Medali di International Mathematics Contest Kontingen Pelajar MIPA Tiba di Bandara Soetta

Safa Fathya Aziza, peraih perunggu dalam International Mathematics Contest di Singapura.(ali)

HT, BANDARA – Ratusan siswa dan siswi Indonesia kembali berhasil mengukir prestasi dalam ajang International Mathematics Contest di Singapura, dengan meraih 43 medali. Sembilan diantaranya medali emas. Kontingen yang mengharumkan nama bangsa itu, tiba di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, Selasa (3/8/2014).

Direktur Klinik Pendidikan MIPA, Raden Ridwa Hasan Saputra, mengatakan, dari ajang kejuaraan matematika yang diikuti siswa dan siswi tahun ini dirasa lebih baik dari perlombaan sebelumnya.

“Alhamdulillah saat ini meningkat dari tahun sebelumnya. Kemarin kita meraih 5 emas, sekarang kita berhasil meraih 9 emas. Kami terus mengevaluasi setiap tahun agar bisa lebih baik lagi,” ujarnya saat di temui di Terminak 2D Bandara Soetta.

Menurutya, adapun negara yang menjadi pesaing Indonesia dalam ajang tersebut yakni China serta Vietnam. “Kemarin itu China, sekarang ada vietnam. Kayaknya Vietnam sudah terjadi peningkatan yang luar biasa," tambahnya. 

Sementara mengenai biaya mengikuti kejuaraan internasional itu dibiayai sediri tanpa ada campur tangan pemerintah. Sehingga, menurutnya, seharusnya pemerintah bisa mengapresiasi pelajar berprestasi sebagai penerus generasi bangsa.

Ditempat yang sama, salah satu pelajar berprestasi dalam ajang itu, Safa Fathya Aziza, siswi kelas 10 SMAI Al Azhar Kelapa Gading, mengaku bangga bisa ikut berprestasi megharumkan nama bangsa. Meski dirinya hanya belum berhasil meraih medali emas dan mendapatkan medali perunggu dari ajang kejuaraan tersebut.

“Senang bisa ikut dalam ajang perlombaan matematika ini. Meski saya mendapatkan perunggu. Saya akan tetap berusaha untuk mendapatkan medali emas pada kejuaraan berikutnya,” ucapnya sambil memegang medali yang diraihnya.

Siswi berparas cantik yang juga membawa daerah asalnya yakni Kalimantan itu juga berharap akan ada siswa lain yang seperti dirinya. Sehingga meski kalimantan berda di pelosok, tapi bisa ikut dalam mengharumkan nama bangsa.

“Mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya ada pelajar lain yang  benar-benar berasal dari Kalimantan. Sehingga daerah yang kerap tidak diperhatikan bisa dapat membuktikan untuk ikut dalam mengharumkan nama bangsa,” tuturnya.

Sementara mengenai persiapan mengikuti ajang tersebut, dirinya membekali dengan pembelajaran dan harus menjalani karantina selama satu minggu di wilayah Bogor, Jawa Barat.

“Sebelumnya sudah belajar, sampai di karatina harus belajar kembali. Kalau kesulitan itu pasti ada, karena ada pelajaran yang belum kita pelajari. Intinya tetap semangat, berdoa, walaupun ada kesulitan itu merupakan tantangan buat kita,” tutupnya.(ali)



Comments

There are no comments

Comments are disabled after three months

Berita Terkait