Terapkan Calistung, Dindik Kota Tangerang Bakal Cabut Izin PAUD dan TK

Kadindik Kota Tangerang, Abduh Surahman saat menjelaska dampak negatif murid PAUD dan TK jika dipaksakan belajar Calistung.(btr)

HT, TANGERANG - Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangerang bakal mencabut ijin Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) yang memberlakukan sistem belajar layaknya di sekolah dasar (SD). Seperti baca tulis dan hitung (Calistung). Lantaran anak usia 6 tahun ke bawah seharusnya bermain sambil belajar bukan malah belajar layaknya anak

Hal itu dikatakan Kadindik Kota Tangerang, Abduh Surahman ketika dikonfirmasi hariantangerang.com di kantornya, Selasa (21/03/2017). "Kalau dipaksakan belajar seperti anak SD, dikhawatirkan banyak anak yang stres. Seperti di Jepang yang bisa bunuh diri karena stres," katanya.

Dijelaskannya, berdasarkan penelitian Universitas Indonesia (UI) pada 1974 lalu, anak-anak usia dini seharusnya tidak dipaksakan untuk belajar baca tulis dan hitung (Calistung) seperti anak SD. Seharusnya murid PAUD dan TK lebih diutamakan bermain, karena dengan bermain mereka juga bisa belajar.

"Contoh jika anak naik perosotan, mereka juga akan belajar untuk tertib mengantri. Jika di rumah mungkin mereka tidak bisa belajar mengantri. Dan jika bermain bersama teman, mereka pastinya akan belajar cara antri dan bersabar," paparnya.

Abduh juga menambahkan, semua pendidik harusnya mengetahui hal itu. Namun diakuinya memang ada saja PAUD atau TK yang tetap menerapkan pendidikan layaknya di sekolah SD. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi hal itu dengan melibatkan sejumlah kalangan profesional.

Tokoh yang dilibatkan dalam sosialisasi itu seperti Arif Rahman Hakim, tokoh pendidikan, Kak Seto, Kak Sinung, staf ahli Kemendikbud dan Elly Risman, psikolog anak. Sosialisasi ini terakhir kali dilakukan bulan lalu di Kota Tangerang.

Diungkapkannya, jika anak usia dini dipaksakan belajar seperti siswi SD, memang akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun peningkatan itu hanya hingga sekitar kelas IV SD saja, kemudian mengalami penurunan drastis.

"Kalaupun bisa mengalami peningkatan lagi terjdi sekitar kelas 2 SMA. Namun tetap sulit mencapai prestasi terbaik anak. Bahkan cenderung mereka jadi kurang bertanggungjawab dan hanya mencari kesenengan, lantaran masa mudanya hilang saa kecil. Makanya banyak siswa yang tawuran dan lainnya," katanya. (btr)



Comments

There are no comments

Comments are disabled after three months

Berita Terkait