Ratusan Pembeli Apartemen Grand Eschol Tuntut Uang Kembali

Pembangunan Apartemen Grand Eschol Residence tak kunjung diselesaikan.(dw)

HT, TANGERANG – Kecewa harus dialami ratusan pembeli Apartemen dan Condotel Grand Eschol Residence di Jalan Raya Legok, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Pasalnya, pembangunan apartemen seharga Rp 500 juta perunit itu hingga kini belum juga rampung. Padahal serah terima yang dijanjikan dilakukan pada Desember 2016.

Khawatir menjadi korban penipuan besar-besaran berkedok investasi properti, para konsumen ini kemudian berbondong-bondong melaporkan pengembang Apartemen dan Condotel Grand Eschol Residence ke Polda Metro Jaya. 

"Kami merasa tertipu dengan pengembang PT Mahakarya Agung Putera (MAP). Kasus ini juga telah kami laporkan ke polisi dengan nomor LP/2876/VI/2017 /PMJ/Dit Reskrimum," kata Jhon, salah satu konsumen saat ditemui awak media, Senin (9/10/2017).

Menurut Jhon, dirinya bersama konsumen lainnya mengaku telah membayar lunas secara bertahap unit apartemen pada pertengahan tahun 2014. 

"PPJB (Perjanjian Jual-beli-red) akan serah terima pada Desember 2016, tapi sampai saat ini jangankan serah terima, unitnya saja belum selesai dibangun," kata Jhon, kesal. 

Bahkan, Jhon mengaku mengetahui pembangunan apartemen tersebut tak lagi beroperasi sejak Maret 2016. Dia pun kemudian menanyakan perihal pembangunan apartemen tersebut ke pengembang. 

"Sejak Maret kami pernah tanyakan ke pengembang, dijawab setelah lebaran (Juli 2016), tapi sampai sekarang hanya 11 lantai. Padahal itu harusnya 36 lantai," ungkapnya. 

Konsumen lain, Sujadi mengakui hal serupa. Dalam hitungannya, berinvestasi apartemen di Kelapa Dua menguntungkan karena bisa disewakan jika tak dihuni sendiri. Ia pun menjelaskan alasannya membeli apartemen tersebut. 

"Pertama itu dikembangkan oleh Aston grup, kedua lokasinya strategis dan janji imbal hasil pertahunnya sampai 8 persen. Investasi ini buat pensiunan seperti saya pasti sangat tergiur," ucapnya. 

Sujadi pun berharap ada tanggung jawab dari PT MAP. "Kami mau uang kami kembali, karena kami ragu kalau proyek ini bisa diteruskan," tegas pria warga Cikupa, Kabupaten Tangerang tersebut. 

Hal senada juga disampaikan Julianto, konsumen lain. Menurutnya, akan ada ratusan pembeli yang tertipu dari proyek tersebut. 

"Saya sudah berkali-kali datangi kantor managemen PT MAP, jawabannya selalu berubah-ubah. Pengakuan pihak manajemen penjualan sudah 80 persen atau sekitar 600 pembeli. Tapi dari Desember 2016, sesuai perjanjian jual beli harusnya sudah serah terima, sampai saat ini juga tak ada progress-nya," kata dia.

Ketika disambangi, kantor pemasaran PT Mahakarya Agung Putera yang berada di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, tak terlihat aktivitas perniagaan. Hanya ada tiga orang, bagian legal atas nama Nico, seorang office boy dan seorang pria. 

"Soal itu kami belum bisa jawab, nanti kami konsultasikan ke jajaran Direksi untuk menggelar press confrence," ucap Nico.

Menurutnya, saat ini pembangunan apartemen dan condotel itu sudah masuk 13 lantai. Namun, ketika didatangi langsung ke proyek yang berada di Jalan Raya Legok, Tangerang itu tak terlihat adanya aktivitas pengerjaan fisik. Hanya ada satu crane besar yang tidak menunjukkan adanya aktivitas pembangunan. (dw)

 



Comments

There are no comments

Comments are disabled after three months