Pendekatan Penerapan Sistem Polder Pada Penanganan Banjir di Kota Tangerang


Setelah diberlakukannya Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, serta Peraturan Walikota Tangerang Nomor 60 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang salah satu tugasnya mengatasi permasalahan Banjir.

Dijelaskam Nana Trisyana, ST, MM selaku Kepala Dinas PU dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, salah satu upaya penanganan banjir khususnya diperkotaan adalah melalui tahapan awal perencanaan teknis, pembangunan system tata air disebuah kawasan melalui pendekatan pembangunan Polder. Pembangunan drainase permukiman, baik mikro maupun makro serta operasi dan pemeiharaan.

Pada umumnya masyarakat mengenal polder sebagai kolam/tendon air sebagai sitem pengendali banjir, namun pada hakekatnya polder merupakan suatu system kesatuan hidrologis buatan yang tidak terpengaruh dari suatu daerah tangkapan air alamiahnya, sehingga air larian, atau rembesan air tanah bisa ditanggulangi dalam satu kesatuan system tata air. Hal ini yang coba direncanakan dan mulai dimplementasikan pada tahun 2017 lalu dan tahun 2018 ini.

Beberapa lokasi tengah dirancang melalui system ini diantaranya di perumahan rawan banjir di Kecamatan Periuk diantaranya di perumahan Total Persada, Periuk Damai, Mutiara Pluit dan Kecamatan Ciledug diantaranya di Wisma Tajur. Maupun beberapa kawasan lainnya yang dianggap memerlukan system dimaksud. 

Adapun Elemen Polder yang dibangun anatara lain adalah Tanggul keliling, atau konstruksi isolasi lainnya, Sistem drainase lapangan (field drainage system), Sistem pembawa (conveyance system), Kolam penampung/tendon air/saluran retensi(longstorage) dan stasiun pompa (outfall system) serta Badan air penerima (reciving waters).

 

Dikawasan Kecamatan Periuk misalnya seperti Perumahan Periuk Damai, Total Persada maupun Mutiara Pluit, Sistem pembuangan drainase sangat mengandalkan pompa mengingat level perumahan dibawah level sungai/kali/saluran pembuang. Daerah dataran di Keurahan Peruk, Gembor maupun sebagan Sangiang, lebih rendah dari muka air banjir (MAB). Kali Cirarab sendiri dirancang MAB sekitar +8,7 m diatas permukaan laut, sementara perumahan disini sekitar +6,5 s/d 7,8 m diatas permukaan laut. 

Diharapkan dengan penerapan sistem polder ini dapat dijadikan salah satu solus mengatasi perasalahan banjir. Tentunya system ini juga tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya pembenahan menyeluruh khususnya di Kali Cirarab dan Situ Bulakan yang saat ini terus dikomunikasikan dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. 

Untuk Drainase setiap tahunnya tidak kurang dari 400 ruas drainase dibangun diarea perumahan, termasuk drainase makro seperti crossing drain di Jl. MH Thamrin yang tidak hanya berfungsi untuk menangani genagna di sekitar jalan, namun kawasan permukiman sekitarnya  untuk menangani genangan seluas  271.32 Ha seperti perumahan  Bina Marga, BMR, Premier, Anyelir dan Bona.

Dari sisi operasi dan pemeliharaan, terus dilakukan pembersihan dan pengerukan sungai/kali/saluran pembuang sebagai kegiatan rutin pemeliharaan dengan pembagian 3 wilayah kerja. 

Pengerukan dan Pembersihan Sungai, Tahun 2018 dilakukan berupa pembersihan di 13 kecamatan meliputi dengan target 64 di Kali/Saluran pembuang di beberapa segmen saluran pembuang. Selain dikerjakan oleh tim pemeliharaan, pembersihan dan pengerukan juga dilakukan secara mekanis, yaitu targetnya pada 10 titik lokasi segmen sungai/kali saluran pembuang. 

Diharapkan dengan program ini kapasitas penampang hidrolis saluran dapat selalu terjaga. Perawatan juga dilakukan pada pompa pompa banjir yang tersebar di lokasi perumahan berikut pintu airnya. Saat ini Bidang SDA ,mengelola  Pompa Banjir sebanyak 122 Unit , dan 12 pompa berjalan. (adv)



Comments

There are no comments

blog comments powered by Disqus

Berita Terkait